Archive

Posts Tagged ‘propolis herbal tumor’

Aktivitas sebagai Anti Tumor (Tumorisida)

August 26th, 2010

Artepillin C sudah terekstraksi dari propolis Brasilia. Artepillin C (3,5-diprenyl-4-hydroxycinnamic acid) memiliki bobot molekul 300.40 dan menunjukkan aktivitas antibakteri. Ketika diaplikasikan ke sel-sel tumor malignant dari manusia dan murine secara in vitro dan in vivo, artepillin C menunjukkan efek sitotoksik dan pertumbuhan sel-sel tumor secara nyata terhambat. Artepillin C ini juga terbukti menyebabkan kerusakan yang signifikan terhadap sel tumor solid dan sel-sel leukemis dengan metode MTT assay, DNA synthesis assay dan observasi morfologi in vitro. Ketika sel-sel tumor xenograft manusia ditransplantasikan ke “tikus-telanjang” efek sitotoksik Artepillin C sangat jelas terdeteksi pada carcinoma dan malignant melanoma (tahi lalat, tompel, kutil hitam). Apoptosis, abortive mitosis, dan massive necrosis secara kombinasi teridentifikasi dengan observasi histology setelah injeksi intratumor dengan 500 µg artepillin C tiga kali per minggu. Selain efek penekanan pertumbuhan sel tumor, juga terdeteksi peningkatan rasio SD4/CD8 T-cells, dan jumlah total helper T-cells. Penemuan ini menunjukkan bahwa artepillin C dapat mengaktifkan sistem kekebalan (immune sistem) dan menunjukkan aktivitas anti-tumor (Kimoto et al., 1998). Dalam percobaan-percobaan dengan renal carcinogen ferric nitrolotriacetate (Fe-NTA) pada tikus jantan ddY, kanker-kanker pulmonary primer juga terinduksi dalam jaringan-jaringan branchiolar dan alveolar. 4-Hydroxy-2-nonenal (4-HNE) dan 8-hydroxy-2’-deoxyguanosine (8-OHdG), produk dari proses-proses oksidatif, meningkat dalam sel-sel branchiolar dan alveolar setelah administrasi Fe-NTA. Senyawa-senyawa ini menghilang setelah pemberian secara oral propolis atau artepillin C, seperti yang ditunjukkan secara histochemic, dan berkorelasi dengan efek antikanker prophylactic dari propolis atau artepillin C. Investigasi diatas menunjukkan bahwa proses peroksidasi lemak diduga berperanan penting dalam pulmonary carcinogenesis. Progresi Malignant dari adenoma yang berasal dari tumor-tumor malignant branchiolar dan alveolar sudah menghasilkan satu langkah transformasi yang sangat bermakna. Dalam studi ini, adenoma berkembang menjadi adenocarcinoma dan sel-sel carcinoma besar setelah perlakuan perangsang kanker Fe-NTA. Sebaliknya, setelah perlakuan oral propolis atau artepillin C. adenoma tidak berkembang menjadi carcinoma. Selain perkembangan menjadi sel-sel kanker besar, karena terinduksi oleh Fe-NTA pada tikus pembanding, adenoma juga secara jelas menunjukkan adanya aktivitas proliferasi macrophage dan aktivitas antioksidan lokal setelah perlakuan propolis atau artepillin C. Propolis dan artepillin C, dengan demikian, menunjukkan aktivitas penghambatan peroksidasi lemak dan perkembangan kanker pulmonary (Kimoto, et al., 2001). Chia-Nana et al (2004) mengisolasi dan mengkarakterisasi dua prenylflavanones, propolin A dan Propolin B dari propolis Taiwan dan mereka melaporkan ketiganya secara nyata menginduksi apoptosis dalam sel-sel melanoma manusia dan aktivitas xanthine oxidase. Selain itu, mereka juga mengisolasi senyama ketiga yang disebut dengan propolin C. Struktur kimiawi propolin C sudah dikarakterisasi dan dibuktikan bahwa senyawa ini identik dengan nymphaenol-A. Namun demikian belum ada laporan tentang aktivitas senyawa ini. Propolin C secara efektif diketemukan efektif menginduksi efek sitotoksik pada sel-sel melanoma manusia. Berdasarkan analisis DNA-flow cytometric terindikasi bahwa propolin C aktif menginduksi apoptosis dalam sel-sel melanoma manusia dan terjadi pengurangan yang jelas dari fase G2/M dari siklus sel-sel melanoma. Tingkat kandungan procaspase-8, Bid, procaspase-3, dan poly (ADP-ribose) polymerase menurun bergantung dengan dosis atau waktu perlakuan. Selanjutnya, propolin C terdeteksi mampu melepaskan cytochrome C dari mitochondria ke cytosol. Penemuan ini menghasilkan dugaan bahwa propolin C mungkin mengaktivasi jalur proses apoptosis yang dimediasi oleh mitochondria. Dengan kata lain, propolin C adalah agen antioksidan potensial dan menunjukkan kemampuan yang kuat menetralisir radikal bebas dan menghambat aktivitas xanthine oxidase. Bazo et al. (2002) menduga bahwa propolis memiliki pengaruh perlindungan dalam proses carsinogenesis usus besar tikus percobaan, menekan perkembangan preneoplastis lesions. PM-3 (3-[2-dimethyl-8-(3-methyl-2-butenyl)benzopyran]-6-propenoic acid) yang diisolasi dari propolis Brasilia terbukti nyata menghambat pertumbuhan dari sel-sel kanker payudara manusia MCF-7. Efek ini berasosiasi dengan penghambatan progres siklus sel dan induksi apoptosis. Perlakuan sel-sel MCF-7 dengan sel-sel yang diperkaya dengan PM-3 dalam fase G1 dan menghasilkan penurunan level protein cyclin D1 dan cyclin E. PM-3 juga menghambat ekspresi cyclin D1 pada level transkripsional dalam uji assay luciferase, aktivator cyclin D1. Induksi Apoptosis dengan PM-3 terjadi dalam 48 jam setelah perlakuan pada sel-sel MCF 7. Sel-sel MCF-7 yang diberi perlakuan PM-3 menunjukkan penurunan kandungan protein receptor estrogen (ER) dan menghambat aktivitas perangsang elemen respon estrogen (ERE) (Luo et el., 2001). Aplikasi topikal dari caffeic acid phenethyl ester (CAPE), salah satu kandungan propolis dari sarang lebah, kepada CD-1 tikus yang sebelumnya diinisiasi dengan 7,12-dimethylbenz (anthracene (DMBA)) menghambat promosi tumor yang diinduksi oleh 12-O-tetradecanoylphorbol-13-acetate (TPA) dan pembentukan 5-hydroxymethyl-2’-deoxyuridine (HMdU) dalam DNA epidermal. Hasil perlakuan menunjukkan efek penghambatan potensial dari CAPE pada perangsangan tumor yang terinduksi oleh TPA dan pembentukan HMdU yang terinduksi oleh TPA dalam DNA dari kulit “tikus uji” sama dengan efek penghambatan dari CAPE pada síntesis DNA, RNA dan protein dalam kultur sel-sel HeLa (Huang et al., 1996). Sembilan zat kimia telah diuji dengan assay 3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide pada pertumbuhan buccal mucosal fibroblast (BF), oral submucosal fibroblast (OSF), neck metastasis dari gingival carcinoma (GNM), dan sel-sel squamous cell carcinoma lidah (TSCCa). CAPE dan analog ethyl-nya menunjukkan cytotoxicitas yang signifikan pada sel-sel OSF, GNM, dan TSCCa, tetapi tidak pada sel-sel BF. Hasil-hasil ini menunjukkan potensi senyawa-senyawa seperti CAPE dijadikan sebagai agen chemotherapy untuk mengatasi kanker mulut (Lee et et., 2000). Propolis lebah madu sangat kaya dengan senyawa-senyawa turunan cinnamic acid. Baccharin dan drupanin dari propolis Brasilia merupakan senyawa turunan cinnamic acid yang mengandung prenyl moeieties. Dewasa ini, dua senyawa terkait turunan cinnamic acid itu terbukti secara in vivo sebagai tumorisida (zat anti tumor) dalam sel-sel penyebab sarcoma S-18 pada tikus. Selanjutnya senyawa-senyawa ini diduga menyebabkan kematian sel-sel tumor dengan sedikit efek samping genotoxic terhadap sel-sel hematopoietic normal dibandingkan dengan obat-obat anti kanker sintetik (Mishima et al., 2005). Chrysin adalah senyawa alami yang aktif secara biologi yang diekstrak dari propolis lebah madu. Senyawa ini menunjukkan potensi sebagai antiinflammation, anti-cancer dan anti-oxidation. Chrysin secara nyata menekan ekspresi COX-2 protein dan mRNA yang terinduksi oleh lipopolysacchadide (LPS) dan tergantung dari dosis yang digunakan. Faktor inti sel untuk IL-6 telah teridentifikasi sebagai penanggung jawab dalam penurunan regulasi COX-2 yang dimediasi oleh chrysin (Woo et al., 2005)

Artikel Kesehatan , , , , , ,